Papadah orang tua bahari, “jangan pernah makan nasi ada sisa karena pamali, bisa kualat.” Sepertinya relevan menggambarkan cara pemerintah daerah menangani masalah pertanian. Terbuai oleh berlimpahnya komoditas dan kesuburan lahan kita lupa untuk bersyukur dan bersiap ketika masa berlimpah akan berakhir.

Tidaklah salah kalau Profesor Clifford Geertz, seorang tokoh antropologi dunia asal Amerika Serikat, mencoba mendefinisikan perkembangan pertanian Indonesia dalam sebuah involusi pertanian. Geertz telah menangkap pertumbuhan negatif disektor pertanian di Indonesia akan terjadi ditandai dengan stagnasi faktor-faktor pendukung utama pembangunan pertanian seperti : Stagnasi produktivitas pertanian, kesejahteraan petani rendah, stagnasi perkembangan pertanian, stagnasi riset pertanian, stagnasi institusi pertanian, stagnasi sistem penyuluhan pertanian, stagnasi lembaga penelitian pertanian dan stagnasi birokrasi pertanian.

Indikator-indikator ini dapat dengan telanjang kita lihat pada anatomi pertumbuhan sektor pertanian kita. Terutama di daerah Kalimantan Selatan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB dari tahun 2006 s/d 2009 rata-rata hanya 22,36% dengan tingkat pertumbuhan rata-rata yang negatif.

Kontribusi Sektoral dalam PDRB Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009

Sektor

2006

2007

2008

2009

Rata-rata

Pertanian

22,43

22,46

22,15

22,34

22,36

Sumber :BPS Tahun 2010

Produksi Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura

di Kalimantan Selatan

2005-2009


Keterangan: *) angka sementara/perkiraan

Sumber : Dinas Pertanian TPH, 2010

Dilihat dari angka produksi terlihat dengan jelas bahwa pertumbuhan rata-rata produksi pertanian cenderung stagnan. Angka pertumbuhan rata-rata terbesar hanya sekitar 27% bagi sebuah sektor unggulan yang telah “dibina” selama bertahun-tahun melalui akumulasi anggaran yang besar, sungguh angka ini tidak dapat disebut menggembirakan.

Pertanyaan mendasar yang perlu dimunculkan adalah apakah masih urgent bagi Kalimantan Selatan bertahan di sektor pertanian kalau memang trend kontribusi sektoral ternyata mengarah kepada perdagangan dan jasa.

Jawabannya adalah Kalsel masih reasonable bertahan pada sektor pertanian karena masih memiliki potensi yang sangat besar. Kalimantan Selatan mempunyai sumber daya lahan rawa seluas 1.140.140 ha dan diperkirakan sekitar 342.387 ha (Dinas Tanaman Pangan Kalsel, 2002; Kalimantan Selatan Dalam Angka, 2003) sangat potensial untuk dikembangkan bagi kegiatan pertanian, perikanan, perkebunan dan kehutanan.

Pemanfaatan lahan rawa baru sekitar 143.118 ha, dan sisanya seluas 199.269 (58,19%) masih berupa lahan tidur yang belum digarap (Anonim, 2003). Meskipun demikian lahan rawa sangat potensial dikembangkan karena didukung oleh ketersediaan lahan yang luas, keadaan topografi yang datar, ketersediaan air melimpah dan teknologi pertanian yang cukup tersedia (Noor. M., 2007).

Disisi sumber daya manusia (SDM) sebagian besar tenaga kerja produktif masih dominan pada sektor primer (pertanian dan pertambangan) hal ini dapat dilihat dari data tenaga kerja Prov Kalsel tahun 2008, yang dipublikasikan oleh BPS Kalsel, sebesar 48% dari total tenaga kerja.

Hanya saja belum ada upaya serius untuk melakukan maintenance sektor pertanian kearah yang lebih modern. Petani dibiarkan terpecah dalam kekuatan-kekuatan kecil dan dibiarkan berjuang sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Kalaupun alokasi dana cukup besar untuk sektor pertanian namun orientasinya tidak optimal dan tidak menyentuh hajat hidup petani secara menyeluruh. Hal ini wajar karena petani tersebar dalam pecahan kecil. Ini salah satu yang menurut Geertz sebagai penyebab terjadinya agricultural involution.

Program dan kebijakan apapun yang dikembangkan oleh pemerintah, tidak akan optimal apabila secara institusi dan pengembangan sumber daya manusia tidak berkembang dengan baik. Sumber daya manusia dibidang pertanian semakin berkurang dari sisi kualitas maupun kuantitas. Sementara lahan dari sisi luasan juga semakin berkurang didesak kemajuan jaman. Namun dalam metode pengembangan kita masih berkutat pada metode dan cara yang kita susun pada saat SDM dan lahan berlebih.

Petani Kalimantan Selatan sebagian besar masih merupakan petani tradisional yang terdiri dari petani kecil dan buruh tani. Upaya signifikan dalam kerangka meningkatkan status petani kita ke arah petani modern tidak berhasil dengan baik. Lihat saja angka produktivitas tenaga kerja pada data BPS tahun 2008, produktivitas tenaga kerja pada sektor primer (pertanian dan pertambangan) masih rendah dibanding sektor sekunder atau tersier.

Teori Booke tentang agricultural dualism yakni adanya sektor pertanian moderen yang berjalan berdampingan dengan sektor pertanian kecil. Keberhasilan pembangunan pertanian akan sangat ditentukan oleh bagaimana menghilangkan kesenjangan diantara keduanya.

Terdapat dua kemungkinan untuk mengatasi fenomena dualisme ini yaitu melalui kerjasama kemitraan antara keduanya dalam arti yang sesungguhnya atau mensupport habis-habisan terhadap sektor tradisional. Bukannya kedua langkah ini belum pernah dilakukan oleh pemerintah masih ingat tentunya kita dengan program PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dan sebagainya. Sayangnya komitmen besar dari pemerintah tidak cukup melakukan pemberdayaan sektor ini.

Disinilah pentingnya sebuah revolusi pertanian dalam tataran pengembangan kebijakan terkait pertanian. Harus ada komitmen yang masif dan kuat yang diwujudkan dalam program jangka panjang terkait kebijakan pertanian. Pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor parsial tapi merupakan tujuan dari keseluruhan pengembangan sektor. Harus ada penguatan pengembangan SDM disisi kesehatan dan pendidikan untuk mendukung pertanian. Pengembangan sektor kesejahteraan diarahkan pada peningkatan jaminan kesejahteraan petani dan sebagainya.

Industrialisasi pertanian harus segera dilakukan di Kalimantan Selatan karena sudah secara nyata terjadi pergeseran sektor basis perekonomian yang tidak sehat. Pergeseran kearah sektor tersier tidak ditopang oleh sektor sekunder (industri) yang kuat, akan menyebabkan tatanan perekonomian mudah goyah. Dan industri yang paling positif dikembangkan di wilayah Kalsel dengan dukungan potensi lahan pertanian yang sangat luas adalah industri pertanian.

Perlu dilakukan kaji ulang kebijakan pemerintah di sektor pertanian dengan memasukkan kebijakan mendorong pengembangan infrastruktur pertanian, perencanaan dan implementasi RTRW yang konsisten, dukungan sistem insentif dalam implementasi produksi komoditas unggulan wilayah (daerah).

Alih fungsi lahan pertanian terkait perkembangan wilayah perkotaan yang berimplikasi terhadap wilayah permukiman dan perdagangan harus diatur dengan tegas. Perlu segera dilakukan inventarisasi berapa luasan lahan pertanian yang ideal untuk dapat menopang kebutuhan daerah akan produksi pertanian khususnya tanaman pangan.

Industri pertanian membutuhkan bahan baku yang besar dan terkoordinasi. Untuk itu kebijakan alih fungsi lahan harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pertanian. Kebijakan kompensasi alih fungsi lahan harus dimanfaatkan untuk mewujudkan sentra-sentra wilayah pertanian. Hal ini akan dapat membantu pemusatan pengembangan petani tradisional kearah modern.

Membangkitkan koperasi-koperasi pertanian secara selektif akan dapat memperkuat bargaining position kaum tani dan produksinya, agar tidak kalah dengan permintaan pasar yang selalu menginginkan harga terendah.

Indah rasanya membayangkan disetiap kabupaten di Kalimantan Selatan terdapat sentra pertanian modern yang menampung petani-petani yang dididik menjadi petani modern. Diperkotaan terdapat industri-industri pertanian yang menjadi pengolah dan penghasil produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan seluruh Kalsel bahkan luar Kalsel.

Menghambur-hamburkan anggaran dan sumber daya kepada segmen-segmen kecil yang terberai sama hukumnya dengan pemborosan. Jadi sudah saatnya hal ini dihentikan. Sentralisasi pengembangan sumberdaya pertanian menuju industrialisasi usaha tani paling tepat dilaksanakan. Ini agar kita tidak disebut sebagai bangsa yang kualat atau terkena pamali, karena terlena dan menghambur-hamburkan “nasi”.


Print Friendly, PDF & Email