Ada satu anekdot yang menarik yang kayanya layak untuk dikaitkan dengan pengadaan barang/jasa. Diceritakan seorang calon penumpang becak sedang bernegosiasi dengan abang becak.

Penumpang    : Bang bisa anterin saya ke Gang Merdeka?

Abang Becak    : Lumayan jauh ya, boleh pak silakan

Penumpang    : Berapa ongkosnya Bang?

Abang Becak    : 30.000 pak

Penumpang    : waduh mahal amat 15.000 ya Bang

Abang Becak    : Jauh soalnya Pak

Penumpang    : Saya Cuma punya 15.000 Bang

Abang Becak    : Ya udah deh daripada 1 harian sepi gini..

Penumpang    : Tolong cepet ya bang…

Abang Becak    : (Sejenak tertegun) Iya deh tunggu bentaran ya..

Abang Becak kemudian mengeluarkan kunci untuk melepas bantalan rem.

Penumpang    : Lho kok dilepas bang nanti ngeremnya gimana???

Abang Becak    : Bapak udah minta murah dan cepat jadi tolong jangan minta selamet ya!!

 

Dialog terakhir yang pasti sangat mengena jika dikaitkan dengan pengadaan barang/jasa. Tidak disadari para pengguna atau pelaksana pengadaan barang/jasa tidak melihat kewajaran ini.

 

Ketika Presiden memerintahkan melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2015 yang diberi judul Percepatan pengadaan barang/jasa maka kita semua harus sadar bahwa constrain-nya adalah soal
waktu. Untuk unsur Harga umumnya terendah dengan kualitas minimal sesuai kebutuhan.

 

Ambil contoh ketika membahas soal negosiasi. Banyak sekali yang bertanya, “apakah dalam negosiasi harus turun harga?”. Jawabannya tidak akan ada yang baku karena sangat tergantung dari Logika “Segitiga Abang Becak (SAB)” tadi.

 

  • Jika kualitas barang yang dibutuhkan sangat tinggi tapi ingin harga murah maka jangan harapkan negosiasi akan berhasil dengan cepat.
  • Jika ingin cepat, harga murah maka jangan mengharapkan kualitas yang terbaik.
  • Jika ingin cepat, kualitas tinggi maka jangan harapkan harga murah.

 

Pertimbangan “SAB” inilah yang dipegang Pokja/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan proses negosiasi.

Contoh kasus:

Penyedia

Merk

Garansi Pabrikan

Harga

A

Toshiba

2 tahun

6.500.000,-

B

Asus

2 Tahun

6.200.000,-

C

Lenovo

1 Tahun

6.000.000,-

 

Jika kualitas barang/jasa yang dibutuhkan sangat-sangat standar dan perlu kecepatan, seperti halnya proses pengadaan langsung, maka harga terendah adalah tujuan utama. Sehingga dalam melakukan proses negosiasi diupayakan harga paling murah yang memungkinkan.

 

Bagaimana kalau ternyata harga sudah merupakan harga terendah apakah perlu dinegosiasi lagi? Tentu dari sisi spesifikasi informasi pembanding yang lain, dimana harga lebih tinggi, dimungkinkan terdapat spesifikasi teknis yang berbeda dan lebih baik. Kelebihan inilah yang juga dapat dijadikan dasar pejabat pengadaan melakukan negosiasi teknis.

 

Skenario 1: Harga Terendah, Waktu Cepat, Kualitas Minimal

Seperti dalam tabel contoh kasus. Harga terendah adalah Penyedia C dengan merek Lenovo. Namun demikian Merk Asus dan Toshiba garansi 2 tahun. Maka upaya negosiasi dapat dilakukan dengan merk Lenovo harga 6.000.000,-. Negosiasi harga berdasarkan HPS maka dengan demikian harga sudah merupakan harga terendah, untuk itu negosiasi teknis yang paling mungkin dilakukan. Negosiasi teknis ini salah satunya terkait dengan garansi pabrikan. Negosiasinya adalah tetap merk Lenovo namun dari sisi garansi pabrikan dimintakan selama 2 tahun. Jika penyedia C mampu dan bersedia mengakomodir extend Garansi Pabrikan menjadi 2 tahun maka pemenang adalah C.

 

Namun demikian jika Penyedia C menolak atau tidak mampu, maka Pejabat Pengadaan dan PPK berdasarkan pertimbangan mengutamakan kecepatan dapat mengambil putusan menunjuk C dengan hasil negosiasi tanpa ada perubahan (Harga dan Teknis Tetap).

 

Skenario 2: Harga Terendah, Kualitas Terbaik, Waktu Lama

Jika faktor kecepatan tidak menjadi utama, fokus kepada Harga Terendah dan Kualitas Terbaik, maka bisa saja beralih dengan melakukan negosiasi harga kepada penyedia B, Merk Asus. Dengan demikian harga diturunkan menjadi paling tinggi 6.000.000,- (Harga Lenovo). Jika penyedia B tidak bersedia, maka negosiasi harga 6.000.000,- dapat dilakukan pada penyedia A, merk Toshiba. Jika penyedia A juga tidak bersedia maka opsi terbaik kembali ke penyedia C. Atau mencari alternatif baru. Lama dong baru dapat penyedianya! Ya, iya karena kita maunya Murah, kualitas terbaik, jangan minta cepat.

 

Skenario 3: Kualitas Terbaik, Waktu Cepat, Harga Tinggi

Bahkan disisi ekstrim jika PPK dan PA menginginkan kualitas terbaik dan kecepatan proses, maka harga terdongkrak mestinya tidak salah. Jika penyedia C tidak bersedia memberikan garansi 2 tahun maka dapat menunjuk penyedia B dengan harga yang lebih tinggi selama masih dibawah HPS. Sayangnya saat ini, di negara kita, tidak demikian kejadiannya. Keputusan manajerial seperti ini bisa berdampak hukum pidana. Jadi meski logika “SAB” nya logis, kualitas terbaik dalam waktu cepat pasti akan mendongkrak harga. Disisi logika hukum tidak selalu demikian adanya. Jadi don’t try at home!! Jika ingin melakukan, pastikan anda Sakti Mandraguna untuk mempertahankan justifikasi. Ini hal yang belum tentu salah, tapi rentan disalahkan, bahkan dijahatkan.

 

Jadi jawaban atas pertanyaan “apakah dalam negosiasi harus turun harga? Adalah dalam negosiasi tidak haram harga penawaran tidak turun, selama upaya maksimal sudah dilakukan untuk mendapatkan kualitas teknis terbaik dengan harga terendah dan waktu yang tercepat.

 

Demikian sedikit pembelajaran dari abang becak yang dapat saya tangkap.. J

Print Friendly, PDF & Email