Aku (Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Ada apa dengan cinta setelah 9 tahun kisah cinta tak sampai mengendap,  meresap kemudian menguap sekian lama?

Ternyata hingga sekuelnya AADC tetap mengkhianati Chairil Anwar. Padahal puisi Chairil Anwar menjadi simbol betapa ke-aku-an Rangga menantang jiwa petarung Cinta untuk menaklukannya.  Buku usang puisi “AKU” menjadi simpul kasih pandangan pertama Cinta dan Rangga.

AKU-nya Chairil Anwar tadinya juga mewakili generasi yang kental meng- Indonesia. Nasionalisme yang terwakili oleh perjuangan Rangga dan Bapaknya yang memperjuangkan idealisme tentang kebenaran yang digenggam. 9 tahun lalu,  4 tahun setelah peristiwa 1998,  gejolak muda pejuang reformasi menyeruak dalam film besutan Riri Riza dulu.

Saat itupun protes tentang betapa ternyata simbol keindonesiaan puisi AKU itu hanya sebagai simbol. Tidak jua kata AKU digunakan sebagai identitas diri seluruh pelakon.  AKU itu digantikan dengan GUE.

Saat itu Kupikir karena memang film ini bersetting remaja sehingga AKU tidak lah mewakili jamannya. Tidak mewakili setting generasi kekinian saat itu.  Nggak gaul banget. Dan akhirnya AKU yang idealis itu harus kalah dengan GUE yang gaul itu.

Kini setelah 9 tahun disaat Cinta dan Rangga semakin dewasa. Buku puisi AKU itupun masih juga dipakai sebagai simbol pengikat.  Namun sekali lagi AKU-nya Khairil Anwar itu harus menelan pahitnya menjadi simbol. Karena AKU digantikan oleh SAYA.

Ah mungkin karena SAYA dianggap mewakili kedewasaan generasi Cinta dan Rangga saat ini pikirku. Betapa kagetnya AKU ketika simbol kedewasaan SAYA itu dilengkapi dengan bumbu yang sama sekali tidak meng-Indonesia. Aksi French Kisses Cinta dan Rangga Itu mengagetkan AKU.  Haruskah kembali demi mengikuti kekinian kemudian AKU yang Indonesia itu harus vulgar dengan berganti SAYA.

AKU tidak cemburu dengan GUE dan SAYA.  Tapi kamu ditonton generasi bangsa dan harusnya memberi kontribusi perbaikan perilaku generasi. Tidak perlu hipokrit bahwa memang kini generasi kita begitu,  namun setidaknya bersikaplah!!

Maka tidak salah kalau Khairil Anwar akan berujar,  “Cinta-Rangga yang kamu lakukan itu,  Jahat”.

Print Friendly