(Sebuah Resensi Film by Samsul Ramli)

Terlalu lama rasanya tidak menuliskan tentang apa yang didapat dari sebuah tontonan. Disela-sela ba’da acara dan menunggu jadwal penerbangan pulang kusempatkan untuk mampir sejenak di Mall Taman Anggrek. Tujuan utama XXI. Memuaskan dahaga tontonan, apalagi sendirian. Kata orang nonton sendirian itu gak enak, buatku nonton sendirian itu tak selalu enak. Jadi kadang ada enaknya juga.

Diantara pilihan film yang tersedia waktu yang memungkinkan, menghitung jarak ke bandara dan jadwal penerbangan, hanyalah IP Man dan Alvin And The Chipmunks. Kalo Alvin sudah nonton bareng si Puteri dus pilihan pun jatuh ke IP Man (Yip Man).

Yip Man yang diperankan Donnie Yen menjadi sosok yang super duper cool. Sejak Yip Man 1 dan 2 tampaknya yang ke-3 ini justru lebih berasa romantis dramatisnya. Untuk 1 dan 2 terus terang nonton penasaran dengan ilmu bela dirinya. Yang ke-3 ini juga sebenarnya sama, apalagi ada Mike Tyson.

Ternyata Wison Yip sang sutradara mampu menyisipkan cerita romantis dramatis yang cukup menyesakkan dada. Ketangguhan Grand Master Kungfu Wing Chun Yip Man luluh lembut ketika berhadapan dengan keluarga kecilnya. Bahkan ketika dipaksa bersujud sang legenda tak menampik kala buah hati kesayangannya terancam.

Kelembutan inipun terpapar dengan sangat baik ketika Yip Man dipaksa bertarung dalam ruang sempit Lift dengan petarung Muay Thai. Gerakan terukur, kuat dan lembut melindungi sang isteri Cheung Wing-sing yang diperankan aktris Lynn Hung. Agak jengah aja sih ngelihat Donnie Yen dipasangkan dengan Lynn Hung, soale Donnie jadi kalah tinggi, hehehe…

Filosofi Wing Chun Yip Man yang dekat dengan Tai Chi berhadapan dengan Wing Chun Cheung Tin‑chi yang diperankan Max Zhang. Cheung Tin‑chi mempunyai kemampuan Kungfu Wing Chun berdaya serang mematikan. Kekuatan menjadi dominan dalam setiap gerakan dan teknik serangan. Menyerang adalah pertahanan terbaik. Filosofi ini berbeda dengan Yip Man yang menyeimbangkan Serangan dan Pertahanan dalam harmoni indera dan rasa.

Terbukti Kungfu Wing Chun sejati bukan hanya tentang kekuatan fisik semata namun lebih pada olah rasa. Cheung Tin‑chi boleh mematikan indera penglihatan Yip Man namun rasa tidak berfokus pada penglihatan. Pemusatan daya dengar justru meningkatkan efektifitas daya serang.

Saya teringat dengan salah satu kajian tentang mana yang lebih utama antara mendengar dan melihat. Dalam Kitabullah Al Qur’an kata mendengar sering lebih dahulu dibanding melihat. Syamiun baru Bashirun. Ketika penglihatan mata terhalang justru dengan pendengaran Yip Man dapat melihat dengan rasa dan memusatkan kekuatan pada titik vital.

Kekuatan rasa lahir dari batin. Rasa terkuat manusia adalah cinta. Begitu menurut kitab Mahabharata J. Sepertinya ini juga yang diyakini Yip Man ketika Cheung Tin‑chi menyatakan kekalahannya. “Jauh lebih penting dari kemenangan adalah orang-orang yang mencintai mu”.

Wing Chun Cheung Tin‑chi dilambari Obsesi. Sedangkan Wing Chun Yip Man dilambari Cinta. Obsesi dan Cinta kadang dapat membedakan rasa dari dua obyek yang sama. Maka hiduplah dengan rasa cinta bukan dengan obsesi.

Kok tiba-tiba ingat pertengkaran El (Julie Estelle) dan Ben (Chico Jericho) dalam Filosofi Kopi. Ben dengan teknik Barista-nya merasa Kopi Perfecto tidak mungkin kalah rasa dengan Kopi Tiwus Pak Seno (Slamet Rahardjo) yang tradisional. Ben mencari jawab dengan amarah. El dengan nada tak kalah tinggi menjawab, “Kamu (Ben) bikin kopi pakai obsesi, Pak Seno bikin kopi pakai Cinta!!”.

Nah loh ini kok jadi campur-campur ulasannya. Gak papa lah namanya juga catatan campur-campur.

Jakarta ditulis di Martapura, 11/1/2015


Print Friendly