Author: Samsul Ramli

Want dan Need dalam Pengadaan Barang/Jasa

Seperti halnya pembahasan cost dan price pada artikel “Pembangunan Yang Terjebak Harga”, pembahasan tentang want dan need mempunyai logika yang sama. Kenapa kita melakukan pengadaan barang/jasa? Ini adalah pertanyaan awal yang harus kita pahami filosofinya secara jelas sebelum melaksanakan pengadaan. Mungkin saja banyak jawaban yang akan muncul dengan berbagai variasi. Namun semua bermuara pada pemenuhan want atau need. Apakah karena kita menginginkan barang/jasa atau karena kita membutuhkan barang/jasa. Mengambil definisi para pakar manajemen sperti Philip Kotler dkk; A want is defined as “the form human needs take as shaped by culture and individual personality” (Kotler, Chandler, Gibbs, & McColl 1989, p. 5). Keinginan adalah kebutuhan manusia yang dibentuk berdasarkan kultur dan kepribadian. Artinya penetapan sasaran tercapainya keinginan menjadi sangat indivual. Boleh saja pada saat ini keinginan kita sudah terpenuhi oleh suatu barang/jasa namun bagi orang lain atau diwaktu berbeda tidak terpenuhi. Ketika pengadaan barang/jasa didasarkan pada keinginan maka penentuan batasan perencanaan teknis, terkait spesifikasi barang/jasa, cenderung bersifat conformance atau rinci sesuai dengan tingkat pengetahuan pelaksana terhadap barang/jasa. Misal satu instansi mempunyai anggaran pembelian mobil dinas, apabila berdasarkan keinginan maka spesifikasi mobil dinas akan mengarah pada satu merk atau produk dan cenderung yang tertinggi yang bisa didapatkan dengan kemampuan anggaran yang maksimal. Batas atas spesifikasi barang/jasa yang ‘want minded’ umumnya hanyalah kapasitas dana yang dimiliki. Bisa disimpulkan “want” ukurannya adalah “price”. Sedangkan kebutuhan didefinisikan sebagai “a state of felt deprivation...

Read More

PEMBANGUNAN YANG TERJEBAK HARGA

Setiap tahun pemerintah menyusun anggaran pembangunan dalam jumlah yang sangat fantastis namun dari sisi manfaat masih disangsikan oleh masyarakat. Ini karena secara general besarnya anggaran itu tidak terlalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat baik melalui peningkatan pendapatan maupun kualitas hidup lainnya. Selain karena persoalan pemborosan, korupsi dan permasalahan inefisiensi lainnya, ada hal lain yang mendasar menurut saya. Persoalan itu adalah tentang mindset dalam memandang anggaran pembangunan. Ini tentang konsep cost dan price.Ada perbedaan mendasar antara cost atau biaya dengan price atau harga. Harga merupakan nilai relatif dari produk. Karena sifat relatifnya harga tidak serta merta menunjukkan besarnya sumber daya yang diperlukan dalam menghasilkan produk. Sedangkan biaya merupakan nilai absolut dari seluruh sumber daya dalam menghasilkan satu produk. Dalam pengertian ini ketika kita menentukan komponen penghematan biaya setidaknya terdiri dari kualitas, waktu dan harga. Komponen penyusun harga suatu produk baik barang/jasa paling tidak terdiri dari profit, tenaga kerja, sistem, bahan baku dan overhead. Relatifitas harga bisa dilihat pada komponen profit. Besar kecilnya profit sama sekali tidak mempunyai ukuran yang pasti dan tidak bisa diberi batasan. Bila ingin disimpulkan maka harga adalah salah satu unsur pembentuk biaya. Oleh karena itu biaya dapat dijadikan landasan obyektif dalam menilai suatu produk karena tidak hanya diukur dengan nominal tapi juga ukuran manfaat atau kualitas serta tentang waktu. Sementara dalam realitas dilapangan ukuran keberhasilan pelaksanaan anggaran pembangunan lebih diarahkan kepada pencapaian output. Penilaian berbasis...

Read More

Ikuti Blog Saya via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5,768 other subscribers

Events


Arsip