Month: July 2011

Revolusi Pertanian, Solusi Pengembangan Sektor Pertanian Daerah

Papadah orang tua bahari, “jangan pernah makan nasi ada sisa karena pamali, bisa kualat.” Sepertinya relevan menggambarkan cara pemerintah daerah menangani masalah pertanian. Terbuai oleh berlimpahnya komoditas dan kesuburan lahan kita lupa untuk bersyukur dan bersiap ketika masa berlimpah akan berakhir. Tidaklah salah kalau Profesor Clifford Geertz, seorang tokoh antropologi dunia asal Amerika Serikat, mencoba mendefinisikan perkembangan pertanian Indonesia dalam sebuah involusi pertanian. Geertz telah menangkap pertumbuhan negatif disektor pertanian di Indonesia akan terjadi ditandai dengan stagnasi faktor-faktor pendukung utama pembangunan pertanian seperti : Stagnasi produktivitas pertanian, kesejahteraan petani rendah, stagnasi perkembangan pertanian, stagnasi riset pertanian, stagnasi institusi pertanian, stagnasi sistem penyuluhan pertanian, stagnasi lembaga penelitian pertanian dan stagnasi birokrasi pertanian. Indikator-indikator ini dapat dengan telanjang kita lihat pada anatomi pertumbuhan sektor pertanian kita. Terutama di daerah Kalimantan Selatan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB dari tahun 2006 s/d 2009 rata-rata hanya 22,36% dengan tingkat pertumbuhan rata-rata yang negatif. Kontribusi Sektoral dalam PDRB Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Sektor 2006 2007 2008 2009 Rata-rata Pertanian 22,43 22,46 22,15 22,34 22,36 Sumber :BPS Tahun 2010 Produksi Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber : Dinas Pertanian TPH, 2010 Dilihat dari angka produksi terlihat dengan jelas bahwa pertumbuhan rata-rata produksi pertanian cenderung stagnan. Angka pertumbuhan rata-rata terbesar hanya sekitar 27% bagi sebuah sektor unggulan yang telah “dibina” selama bertahun-tahun melalui akumulasi anggaran yang besar, sungguh angka...

Read More

Anggaran Berbasis Kinerja versus Kinerja Berbasis Anggaran

Satu hal yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah hikmah yang didapat disetiap perjalanan. Dalam kesempatan shalat Jum’at, disebuah mesjid di tiga perempat perjalanan menuju Kota Solo, pesan khutbah mengulas teladan Rasulullah dalam memimpin umat yaitu tentang siddiq, fathonah, tablig dan amanah. Tidak ada yang kebetulan kalau ternyata pesan khutbah ini berkoneksi langsung dengan sebuah materi TOT Peningkatan Kompetensi Trainer Pengadaan Barang/Jasa prakarsa DPD Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI) Jawa Tengah dan LKPP. Meski sebenarnya banyak sekali yang didapat dalam even ini. Karena dikelilingi teman-teman yang hebat dan narasumber yang luar biasa, memperluas cakrwala pikir sekaligus memperdalam pemahaman tentang banyak hal. Materi yang saya maksudkan adalah diskusi tentang anggaran berbasis kinerja (ABK) versus kinerja berbasis anggaran (KBA).Mengapa ini menarik? Saya langsung mengaitkan dua frasa ini dengan tulisan terdahulu tentang cost (Pembangunan Terjebak Harga), disana sempat muncul pembahasan money follow the function (MFF) atau value for money (VFM). Dalam paradigma ABK/MFF/VFM, target kinerja harus ditetapkan terlebih dahulu, baru anggaran. Sedangkan paradigma KBA/FFM/MFV, anggaran dulu yang ditetapkan, baru target kinerja. Apabila kinerja dijadikan panglima maka kesepakatan yang wajib disusun adalah rencana kinerja, baru kebijakan anggaran. Pertanyaan selanjutnya, apa mungkin dalam kondisi finansial yang tidak dapat ditentukan di awal, pelaksanaan akan sesuai rencana? Pertanyaan seperti inilah yang selama ini dijadikan dasar perencanaan pembangunan. Semua berbasis anggaran! Perencanaan dibuat setelah anggaran sudah dapat dipastikan atau ditetapkan. Akibatnya pembangunan hanya berbasis price bukan cost....

Read More

Ikuti Blog Saya via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 342 other subscribers